Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari 12, 2016

Revitalisasi Spirit Perkaderan HMI Membangun Kompetensi Pembinaan Dalam Sistem Perkaderan

S pirit atau semangat telah dikenal sejak manusia mengenal sejarah, sebab sejarah digerakkan oleh moral manusia. Bahkan, spirit itu ada sejak manusia itu mulai terdorong mengenali gejala kehidupan baik dalam dirinya maupun di luar dirinya. Gejala dorongan itu kemudian dikenal sebagai elan vital yang mengarahkannya untuk berkembang ke banyak dimensi sejarah. Manusia meruntun sejarahnya dengan semangat sekaligus hidup dalam sejarah itu sendiri. Akan tetapi, dasar semangat atau yang dikenal sebagai elan vital bukanlah produk sejarah, melainkan kodrat pemberian sang Khalik dalam bentuk fitrah kemanusiaan yang karena orientasinya senantiasa kepada kebenaran, kebaikan, dan keseimbangan menjadikan manusia selalu ingin menjadi bagian tak terpisahkan dalam pembentukan dan perkembangan tatanan nilai, termasuk ke arah mana tatanan nilai yang dibentuknya harus mengabdi. Demikian sesungguhnya bahwa betapa manusia selalu ingin hidup dalam suatu tingkat nilai yang bermartabat. Sebab, manaka...

Ideologisasi Nilai Kekaderan Dalam Tantangan dan Perubahan

Dalam konteks penjelasan sebelumnya, perubahan yang diketengahkan bagi perkaderan HMI berpangkal pada proyek rekayasa global yang mempengaruhi kultur masyarakat saat ini. Berbagai hal telah muncul sebagai implikasi dari kemenangan kapitalisme atas sosialisme yang tidak terduga sebelumnya, tetapi pada sisi lain dunia semakin terbuka untuk melakukan transaksi dan pertukaran potensi serta komunitas atas dasar pasar bebas. Secara geografi politik, HMI lahir dan berkembang sebagai bagian dari Negara-bangsa yang terletak di dunia timur, tentu terancam ‘rugi’ oleh kedua situasi tersebut, bahkan jika keliru menafsirkan, HMI pun menjadi korban.  Jika dalam hembusan globalisasi manusia hidup tanpa standarisasi nilai kehidupan atas diri, tanpa orientasi kerja-hidup di dunia, tanpa karakter, tanpa identitas kebudayaan yang berakar.  Dalam konteks ini harus ditegaskan bahwa globalisasi adalah bawaan dunia barat berbentuk peradaban tidak bersendi spritualitas dan tanpa standar nilai...

Normalisasi Perkaderan Proses Pelembagaan Nilai Kekaderan HMI

Sebagaimana sisytem social lainnya, sistyem perkaderan HMI juga harus mencerminkan kontinyuitas dan reproduksi perubahan. Dalam hal ini terdapat 3 (tiga) cara pandang melihat kerangka sistemik perkaderan HMI; 1.      Perkaderan HMI; sebagai sutau bentuk subsistem social budaya dengan nilai keummatan dan kebangsaan yang disandangnya agar senantiasa melakukan kontraksi dengan sisytem social. 2.      Menempatkan perkaderan HMI sebagai sebuah proses didik diri untuk pembentukan sikap, watak, dan perilaku kekaderan. 3.      Memandang perkaderan HMI secara dan atau dalam arti luas Selanjutnya perkaderan HMI mengandung turbelensi pelembagaan kontinyuitas generasi yang memahami sistyem nilai HMI serta reproduksi dalam bentuk aktualisasi dan koaktualisasi kiprah kader di semua segmen kemasyarakatan. Kedua varian yang terkandung dalam sistem perkaderan terkondisi pada semua mata rantai sejarah perjalanan HMI mulai daya guna d...

Predeterminis Sistem Perkaderan Berbasis Qualia Iptek Kader

HMI ada karena qualia intelektual, HMI ada karena Visioner Pemikiran, Demi masa, HMI adalah Predeterminis masa depan bangsa Dan, Demi Masa, Bukan HMI jika tak predeterminis dalam meneropong masa depan bangsa, Demi masa, Bukan HMI jika qualia kader sama dengan seonggok sampah. HMI yang sudah memproklamirkan fungsinya sebagai organisasi kader, mau tidak mau menjadikan perkaderan sebagai jantung kehidupan organisasinya. Namun sebetulnya asp-ek perkaderan di HMI mulai dibenahi secara serius pada akhir tahun 50-an dimana HMI sudah bertahun-tahun menjalankan peranannya, jadi perkaderan di HMI tidak lahir berbarengan dengan kelahiran HMI itu sendiri, melainkan lahir seiring proses waktu dan perubahan zaman. Awalnya hal itu baru mulai terpikirkan oleh para kader (PB HMI) ketika masa kepengurusan Ismail Hasan Metareum (periode 1957-1960), dan masih berupa wacana-wacana yang digulirkan oleh PB HMI sendiri. Ismail Hasan yang merupakan penggagas utama ide pe...

Masa Depan Indonesia Di Tengah Pusaran Neoliberalisme

Mantan wakil presiden pertama Indonesia, Muhammad Hatta Mengatakan dalam pidatonya: “ Bebas artinya menentukan jalan sendiri, tidak terpengaruh oleh pihak manapun, sedangkan aktif artinya menuju perdamaian dunia dan bersahabat dengan segala bangsa” [1] Kelahiran politik luar negeri Indonesia memiliki kaitan erat dengan sejarah revolusi Indonesia. Revolusi Indonesia ditandai dengan kebebasan Indonesia dari tangan kolonialisme Belanda. Fase revolusi Indonesia yang pertama adalah pergerakan memperjuangkan kemerdekaan. Sedangkan fase selanjutnya lebih dikenal dengan revolusi perjuangan sosial sebagai negara yang baru merdeka. Setiap fase revolusi tentunya menelorkan arah politik luar negeri yang berbeda. Setiap negara, dalam entitasnya, menetapkan kebijakan yang mengatur hubungannya dengan dunia internasional. Kebijakan tersebut sekaligus berfungsi menjelaskan keterlibatannya dalam isu-isu internasional. Kebijakan negara baik domestik maupun internasional selalu didasarka...

HMI Kembali ke Gerakan Kebudayaan

Kaitan HMI secara Historis, adalah sebuah organisasi yang pada khittahnya berjuang untuk mewujudkan Masyarakat adil Makmur yang diridhoi Allah SWT. Sehingga HMI merupakan suatu lembaga dan komunitas yang didasari pada suatu komitmen bersama oleh kader-kadernya pada cita-cita ideal tersebut, setidaknya ada dua hal yang merupakan dasar dan titik pertemuan visi kader-kader HMI dalam berhimpun dan bergerak dalam himpunan yakni Nilai KeIslaman dan Nilai Keindonesiaan yang praksisnya terlihat dalam spirit perjuangan HMI dalam mewarnai wacana kebudayaan dan kenegaraan di bangsa ini. Dalam konteks kehidupan HMI saat ini, keterkaitan hal tesebut yang sudah mulai ditinggalkan, hal ini di sadari semakin hilangnya identitas keilmuan dan keIslaman HMI dalam mewarnai aktifitas gerakan baik secara organisasi maupun secara personal kader-kadernya, setidaknya hal ini dapat dirasakan di beberaoa tahun terkahir ini, sehingga harapan untuk menyatu dalam gagasan dan perjuangan pada semangat yang sama...

Bagan Filsafat Hellenisme Hingga Filsafat Pertengahan (Bagian Kedua)

Bagan Filsafat Shopies dan Filsafat Yunani Klasik (Bagian Satu)

Analisis Teori Hukum Progressif

A.   Hukum Berkeadilan Setelah melihat kondisi hukum yang terpuruk tersebut maka tidak ada kata lain selain terus mengedepankan reformasi hukum menuju hukum yang lebih progresif dalam rangka mencapai supremasi hukum yang berkeadilan. Bagi Socrates, keadilan merupakan inti hukum. [1] Arsitoteles dalam The Ethics of Aristoteles, terjemahan J.A.K Thomson, yang disunting oleh S. Tasrif, menyatakan bahwa bila orang berbicara tentang keadilan, yang mereka anggap secara pasti adalah adanya suatu keadaan pikiran yang mendorong mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang adil, untuk bersikap secara adil, dan untuk tidak menginginkan hal yang tidak adil. [2] Cara mengetahui keadilan adalah lewat theoria (pengetahuan intuitif), berupa logos yang sudah ada dalam diri manusia yang dianugrahkan oleh Sang Maha Khalik. Karena itu, supaya adil orang perlu refleksi diri. Kata Socrates, Gnooti Seauton! Kenalilah dirimu. Aristoteles juga membedakan adanya dua macam keadi...