Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 24, 2012

SBY, PETANG INI ! - PUISI

Sudah Seperempat abad,, kita menapak tanpa alas.. Dengan nafs birahi yang terputus-putus dan bauan tubuh gaib-Mu yang usai ku setubuhi dengan nafas yang terengah. Kau masih terlentang dengan dada kembang kempis.. seakan bernyanyi tentang isyarat lampu merah yang tak usai meski malam beranjak lepas. sementara Ribuan mata memicing tak henti-henti.. tak ubahnya lampu teplon yang menerangi sepertiga ruangan.. Kita masih terjaga.. sayang. Bukankah kita sudah bersetubuh dalam ruang-ruang khayal yang lega tanpa batas.. Dan kau lalu bunting dengan sebuah bait yang padat.. teramat padat. lewat  binar matamu yang bergaris hitam-putih itulah,, Ku temui si SBY dengan dada berbulunya tengah tertelap dengan air liur yang meleleh banyak.. hahaha.. Dasar si Yudoyono. Dan petang ini.. Kau enggan melepas penggalan birahimu sekalipun hanya sebaris kalimat. Katamu,, biar kusimpan rapat-rapat pada selimut bulu domba si bapak negara  di ranah kita petang ini. ...

DENGARKAN, BANGSAKU !

BANGSAKU,, Disini tanah tempatku berpijak, Sebuah hemparanku memandang Bentangan Luas Negeriku, Disini harapan besarku tersirat, Sebuah kecintaanku kepadamu Bangsaku,, BANGSAKU,, Sangatlah Luas hemparan tanahmu, Sangatlah Melimpah kekayaan alammu, Dan Sangatlah Jelas Terbentang luas Manifestasimu, Tapi Mengapa BANGSAKU? Kami Tetap Miskin Di Atas Hemparan Tanahmu, Kami Tetap Miskin Di Atas Limpahan Kekayaan Alammu, Kami Tetap Miskin Di Atas Bentangan Luas Manifestasimu, Mengapa BANGSAKU? dalam tilas tapak kaki ku berpijak di Tanahmu, Dalam semu tatapan pandanganku melihat kekayaan alammu, Dalam rasaku merasuk bentangan luas manifestasimu, BANGSAKU, Dimana janji-janjimu itu, Dimana Harapan itu, Dimana? Jawab Tanyaku ini BANGSAKU,, Apakah Engkau mendengar rintihanku ini, Apakah Engkau mendengar teriakanku ini, ataukah, Aku Perlu Membangkang kepadamu! Hingga engkau mendengar curahan hatiku ini BANGSAKU,, -------------------------...

LIRIH

Teruntuk sang kuncup yang terlalu dini ku petik pada helaian wangi mawar.. Teruntuk kau si permata malam dengan tabir-tabir megah yang terlalu lamban ku sangsikan.. teruntuk lirih bisikan Tuhanku yang teramat sulit kuterjemahkan pada lembayung senja.. Ijinkan aku menangis, sejadi-jadinya! Ijinkan aku.. ku mohon Teruntuk kau.. Dia.. dan semua... yang memasung bingkai rona matanya, yang cantik.. molek.. juga menggairahkan, akh.. padamkan saja...padamkan saja...biar hening. Aku ingin teriak.. teriak.. dan teriak, meski dengan irama diam. bebaskan bauan anggur yang memabukkan sembilu nuraniku.. Dengan nafasmu, dengan birahimu, dengan makianmu,, tolong bebaskan aku dari perihnya rindu yang mendesak rongga sempit batinku, pedih.. Teruntuk kau.. puisi malamku yang selesai sebelum ku maknai,.. Aku ingin menangis sejadinya,.. Biar keindahan syair-mu  tetap mengilhami langkah kecilku, nanti... Lirih.. Dalam bilik kamarku.. ------------------...